This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Minggu, 16 Maret 2014
Sejarah Hidup Imam Al Ghazal
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga
kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki
pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya
sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin
belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum
muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup
beliau.
Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad
Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323
dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam
penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama
beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan
oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah
seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin
Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah
anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah
salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al
Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada
pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya
ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam
Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani
mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya
kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari
keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada
Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah
pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan
dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab
Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota
Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz
Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193
dan 194).
Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat
dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan
pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia
berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan
saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka
saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan
untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari
keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut.
Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan
harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya
telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan
miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk
ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang
dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang
menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh
Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah
ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil
dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang
shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian
kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka,
serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli
fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila
hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah
ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam
Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang
yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah
6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil.
Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi.
Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al
Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah
selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam
Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai
dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan,
ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli
ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang
membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam
Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali
ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para
ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan
mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya
di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H
beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia
tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai
kedudukan yang sangat tinggi.
Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau
menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut
yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam
beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak
didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat
menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan
kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya
Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan
At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin.
Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin
pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa
filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’
Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya
dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang
ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya
menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan
masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang
sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau
semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab
dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan
mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu
benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan
beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab
Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang
mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis,
niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong
kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami
(ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga
murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu
Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’
Fatawa 4/164).
Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya
congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin)
yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan
tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul
Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad
sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal
beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke
Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk
di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang
sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya
Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan
mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan
tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal
di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari
Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam
Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya,
“An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di
Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu
menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa
lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama
di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam
Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau
dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang
ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah
beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya
untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama
untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al
Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan
shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.
Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali
mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi,
“Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul
dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya
beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat.
Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali
beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya
beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya);
Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata,
“Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta
meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui
Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau
meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz
Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari
Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath
Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).
Sejarah Istana Kerajaan Lima Laras
Cikal Bakal dari kerajaan Lima Laras tidak terlepas dari
Kesultanan Siak Sri Indapura di Riau. Kerajaan Lima Laras diperkirakan sudah
berdiri sejak abad ke 16, namun sering berpindah-pindah dan belum memiliki
istana permanen. Pada tahun 1912, Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XII
berniat untuk membangun istana di Batu bara yang dikenal sebagai daerah
strategis untuk perdagangan (karena berdekatan dengan Tanjung Balai yang
dikuasai oleh kerajaan batu bara).
Pemerintah Hindia Belanda
pada waktu itu melarang para raja untuk berdagang . Tidak jelas alasan larangan
tersebut, namun asumsi saya karena tindakan monopoli oleh VOC. Datuk
Matyoeda sendiri sering berdagang ke Malaysia (Malaka) , Singapura dan Thailand.
Saat larangan tersebut diberlakukan, beberapa armada kapal beserta isinya
disita oleh Belanda setibanya kembali di Asahan.
Datuk Matyoeda berniat, jika dagangan terakhirnya selamat,
hasilnya akan digunakan membangun istana. Rupanya kapalnya kembali dengan selamat.
Maka dia kemudian membangun istana Lima Laras.
Namun, Datuk Matyoeda sendiri hanya sebentar saja dapat menikmati
istana tersebut. Ia bersama keluarga dan unsur pemerintahannya mendiami
istana sejak tahun 1917 dan wafatnya pada tahun 1919, sekaligus penanda
berakhirnya masa kejayaan kerajaan Lima Laras.
Keluarga Kerajaan Lima Laras pun harus terusir dari Istana pada
tahun 1942 saat tentara Jepang menundukkan daerah Asahan. Dan pada saat itu
pula, Kakek dari sepupu saya, yang merupakan cucu dari Datuk Matyoeda keluar
dari Istana.
Bangunan Istana Lima Laras
Istana Lima Laras memiliki empat anjungan yang masing-masing
menghadap ke empat arah mata angin. Dua buah meriam berada di depan
bangunannya. Arsitektur melayu sangat kental, terutama pada atap dan kisi-kisi
rumah panggung tersebut. Lantai bawah dan balairungnya terbuat dari Beton
sementara lantai dua, tempat keluarga istana tinggal, hanya berlantaikan
kayu. Terdapat beberapa kamar di lantai dua dan tiga.
Saya beruntung dapat masuk ke dalam istana di lantai dua karena
berkunjung bersama para keturunan Raja Lima Laras. Namun, saya tidak bisa
menemukan apapun di dalam istana untuk saya dokumentasikan. Seluruh ruangan
disini kosong dan telah diamankan oleh salah seorang ahli waris kerajaan yang
lain.
Jangan membandingkan istana lima laras dengan istana maimun yang
megah dan penuh dengan barang-barang antik yang mahal. Istana lima laras
sendiri kondisinya sangat tidak terawat. Bangunan ber cat kayu warna hijau yang
dominan ini sudah diambang kehancuran. Kayu-kayu bangunan sudah, beberapa anak
tangga sudah hilang dan semak-semak setinggi orang dewasa menghiasi pekarangan.
Istana Lima Laras sendiri berada di sebuah perkampungan nelayan
kecil. Akses kendaraan agak sulit karena jembatan yang menghubungkan jalan
ke depan istana terputus. Saya harus berjalan kaki di jembatan kayu
(satu-satunya akses yang ada) beberapa meter dari lokasi istana.
Kerajaan Sultan Asahan dan pemerintahan Datuk-Datuk
di wilayah Batu Baratetap diakui oleh Belanda, namun tidak berkuasa penuh
sebagaimanasebelumnya. Wilayah pemerintahan Kesultanan dibagi atas Distrik dan
Onder Distrik yaitu:
1. Distrik Tanjung Balai dan Onder Distrik Sungai Kepayang.
2. Distrik Kisaran.
3. Distrik Bandar Pulau dan Onder Distrik Bandar Pasir Mandoge.
Sedangkan wilayah pemerintahan Datuk-datuk di Batu Bara dibagi menjadi wilayah
Self Bestuur yaitu:
1. Self Bestuur Indrapura
2. Self Bestuur Lima Puluh
3. Self Bestuur Pesisir
4. Self Bestuur Suku Dua ( Bogak dan Lima Laras ).
Pemerintahan Belanda berhasil ditundukkan Jepang (tanggal 13 Maret 1942), sejak saat itu Pemerintahan Fasisme Jepang disusun menggantikan Pemerintahan Belanda. Pemerintahan Fasisme Jepang dipimpin oleh Letnan T. Jamada dengan struktur pemerintahan Belanda yaitu Asahan Bunsyu dan bawahannya Fuku Bunsyu Batu bara. Selain itu, wilayah yang lebih kecil di bagi menjadi Distrik yaitu Distrik Tanjung Balai, Kisaran, Bandar Pulau, Pulau Rakyat dan Sei Kepayang. Pemerintahan Fasisme Jepang berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Negara Republik Indonesia diproklamirkan. Sesuai dengan perkembanganKetatanegaraan Republik Indonesia, maka berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1945, Komite Nasional Indonesia Wilayah batu bara di bentuk pada bulan September 2003. Pada saat itu pemerintahan yang di pegang oleh Jepang sudah tidak ada lagi,
tapi pemerintahan Kesultanan dan pemerintahan Fuku
Bunsyu di Batu Bara masih tetap ada. Tanggal 15 Maret 1946, berlaku struktur
pemerintahan Republik Indonesia di Asahan dan wilayah Asahan di pimpin oleh
Abdullah Eteng sebagai kepala wilayah dan Sori Harahap sebagai wakil kepala
wilayah, sedangkan wilayah Asahan dibagi atas 5 (lima) Kewedanan,
yaitu:
1. Kewedanan Tanjung Balai
2. Kewedanan Kisaran
3. Kewedanan Batubara Utara
4. Kewedanan Batubara Selatan
5. Kewedanan Bandar Pulau.
Pada pertengahan tahun 2007 berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tahun 2007
tanggal 15 Juni 2007 tentang pembentukan Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Asahan
dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Asahan dan Batu Bara. Wilayah Asahan
terdiri atas 13 kecamatan sedangkan Batu Bara 7 kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Sei Balai
2. Kecamatan Tanjung Tiram
3. Kecamatan Talawi
4. Kecamatan Lima Puluh
5. Kecamatan Air Putih
6. Kecamatan Sei Suka
7. Kecamatan Medang Deras
Istana Lima Laras
adalah sejarah yang terlupakan. Namanya kalah tenar ketimbang Istana Maimun di
Medan. Walau tidak kokoh benar, Istana Lima Laras masih berdiri di Desa Lima
Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Asahan. Sekitar 136 kilometer sebelah
tenggara kota Medan.
Sepintas dari
depan terlihat warna hijau bangunan istana sudah kusam. Istana berlantai empat
yang dibangun tahun 1912 itu sudah lapuk dimakan zaman dan tak menarik lagi
dikunjungi. Mungkin karena kondisinya itu Juga maka dalam brosur pariwisata
Sumatera Utara, istana Lima Laras tidak tercantum lagi sebagai salah satu objek
wisata.
Istana yang
berada di atas tanah seluas 102 x 98 meter ini dibangun Datuk Matyoeda, Raja
Kerajaan Lima Laras XII, putra tertua raja sebelumnya, Datuk H Djafar gelar
Raja Sri Indra. Semula istana ini bernama istana Niat, karena rencana
pembangunannya berdasarkan niat Matyoeda untuk mendirikan sebuah istana untuk
kerajaan itu.
Sebelumnya pusat pemerintahan kerajaan Lima Laras yang tunduk pada Kesultanan Siak di Riau dan diperkirakan sudah ada sejak abad XVI, sering berpindah‑pindah karena belum punya istana permanen.
Sebelumnya pusat pemerintahan kerajaan Lima Laras yang tunduk pada Kesultanan Siak di Riau dan diperkirakan sudah ada sejak abad XVI, sering berpindah‑pindah karena belum punya istana permanen.
Niat Datuk
Matyoeda itu sendiri bermula dari keputusan Belanda yang melarang para raja
berdagang. Tidak jelas alasan larangan ini. Matyoeda yang kerap berdagang ke Malaysia,
Singapura dan Thailand dan memiliki kapal besar tentu saja gusar. Apalagi pada
saat keputusan keluar, beberapa armada dagangnya sedang berlayar ke Malaysia. Dengan
adanya larangan ini, nasib kapal bersama isinya itu tidak terjamin lagi. Bisa
disita Belanda setibanya kembali di Asahan, atau bisa tetap tinggal di Malaysia
yang dulu masih bernama Malaka.
Sebab itulah
Matyoeda berniat, jika dagangan terakhirnya selamat, hasilnya akan digunakan
membangun istana. Rupanya kapalnya kembali dengan selamat. Maka dia kemudian
membangun istana itu dengan biaya 150.000 gulden dan memimpin langsung
pembangunan istana dengan mendatangkan 80 orang tenaga ahli dari China dan
Pulau Penang, Malaysia serta sejumlah tukang dari sekitar lokasi pembangunan
istana.
Matyoeda bersama
keluarga dan unsur pemerintahannya mendiami istana sejak tahun 1917, walaupun
pada saat itu istana masih belum rampung. Waktu wafatnya pada 7 Juni 1919,
sekaligus penanda berakhirnya masa kejayaan kerajaan Lima Laras. Tahun 1942
tentara Jepang masuk Asahan dan menguasai istana. Baru pada masa Agresi Militer
II, istana kembali ke tangan Republik dan ditempati Angkatan Laut Republik
Indonesia di bawah pimpinan Mayor Dahrif Nasution.
Empat Anjungan
Empat Anjungan
Istana yang
menghadap selatan itu memiliki empat anjungan di ke empat arah mata angin. Di
depannya ada bangunan kecil tempat dua meriam berada. Hampir keseluruhan
bangunan berarsitektur Melayu, terutama pada model atap dan kisi‑kisinya.
Tetapi ada juga beberapa bagian istana berornamen China. Kecuali batu bata,
bahan bangunan seperti kaca untuk jendela dan pintu didatangkan dari luar
negeri.
Lantai pertama
yang terbuat dari beton, dilengkapi balai rung atau tempat bermusyawarah. Di
lantai dua dan tiga terdapat kamar‑kamar dengan ukuran sekitar 6 x 5 meter.
Total, istana ini memiliki 28 pintu dan 66 pasang jendela. Untuk naik ke
tingkat dua dan tiga, selain tangga biasa di bagian luar, ada tangga berputar
dengan 27 anak tangga dari bagian dalam.
Jika berkunjung
ke istana itu sekarang ini, jangan bayangkan masih bisa melihat tangga putar
itu masih utuh. Beberapa anak tangga sudah hilang dan bagian tengah telah putus
karena lapuk. Jangan berharap juga bisa melihat bekas singgasana atau peralatan
tanda kemegahan kerajaan itu pada masa lampau, sebab sebagian besar
perlengkapan istana sudah hancur atau raib.
Datuk Muhammad
Azminsyah (62), salah seorang cucu Datuk Matyoeda, beruntung masih menyimpan
beberapa barang pusaka perlengkapan istana, seperti tempayan besar dengan
ukiran naga, sejumlah barang pecah‑belah, dua buah pedang dan sebuah tombak.
Barang itu disimpan di rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari istana.
Istana Lima Laras
sekarang ini memang tengah dalam tahap perbaikan. Lantai satu dan dua bagian
belakang istana sudah diperbaiki dan dicat. Perbaikan kecil itu sifatnya hanya
menunda kehancuran, sebab bangunan utama di bagian depan masih berantakan.
Dinding‑dinding sudah bercopotan papannya, demikian juga atap dan lantai.
Beberapa tiang penyangga yang terbuat dari kayu pun bernasib serupa.
Menurut Maddin
(70) yang sehari‑hari menjaga istana tersebut, biaya perbaikan itu berasal dari
pihak keluarga. “Bantuan pemerintah sudah lama tidak ada. Kalau hari‑hari libur
seperti lebaran ini, ada tambahan biaya perbaikan dari kutipan masuk Rp 500 per
orang.” kata Maddin yang menyatakan bisa mengumpulkan Rp 30 ribu pada lebaran
kedua.
Harapan pemasukan
memang hanya dari kutipan pengunjung. Celakanya. pengunjung yang hanya datang
pada saat lebaran saja, itu pun didominasi anak‑anak sekitar kampung. Selain
masalah renovasi, jalan masuk ke lokasi juga rusak dan kumuhnya perkampungan
bukan pemandangan yang layak untuk dijual ke turis domestik, apalagi asing.
Renovasi terakhir
yang dilakukan pemerintah hanya tahun 1980/1981 dengan biaya Rp 234 juta, saat
masih dikelola Kanwil Depdikbud Sumut. Setelah diserahkan kepada Pemda Asahan
sejak 14 September 1990, praktis tidak ada perbaikan apapun lagi. Padahal upaya
melestarikan istana sangat penting mengingat sejarah dan nilai budaya yang
dikandungnya.
Istana Lima Laras
tak lagi dihuni. Malam hari, tak ada penerangan berarti. Halaman istana juga
ditumbuhi semak yang tingginya bisa mencapai satu meter lebih. Karena
kondisinya itu, makanya pernah muncul di surat kabar berita yang
memprihatinkan, istana Lima Laras menjadi tempat bermain judi. Tragis!
Sumber: - http://kbaa.blogspot.com/2009/06/istana-niat-lima-laras.html
- Wikipedia Indonesia
- Buku batu bara
Diperbaiki
oleh firdaus
10 Jenis Virus Komputer Yang Paling Berbahaya
Serangan virus merupakan salah satu hal yang sangat tidak diinginkan
dalam komputer, selain dapat menghilangkan file mahupun aplikasi pada
komputer, virus juga dapat membuat komputer tidak boleh bertahan lama
(rosak). Berikut ini adalah daftar sepuluh jenis virus komputer yang
paling berbahaya.
Lagi, virus jenis VBScript yang lumayan banyak dikeluhkan oleh
beberapa pembaca. Ia akan mencuba menyebarkan dirinya ke setiap drive di
komputer Anda termasuk drive flash disk. Pada drive terinfeksi akan
terdapat file reva.vbs, autorun.inf, dan shaheedan.jpg. Selain itu, ia
pun akan mengubah halaman default dari Internet Explorer agar mengarah
ke situ http://www.arrahmah.com.
1. Discusx.vbs
Virus VBScript yang satu ini, memiliki ukuran sekitar 4.800 bytes.
Dia akan mencuba menginfeksi di beberapa drive di komputer Anda,
termasuk drive flash disk,
yang jika terinfeksi akan membuat file autorun.inf dan System32.sys.vbs
pada root drive tersebut. Selain itu, ia pun akan mengubah caption dari
Internet Explorer menjadi “.::Discus-X SAY MET LEBARAN! [HAPPY LEBARAN ?!]::.”.
2. Reva.vbs
3. XFly
PC Media Antivirus
mengenali dua varian dari virus ini, yakni XFly.A dan XFly.B. Sama
seperti kebanyakan virus lokal lainnya, ia dibuat menggunakan Visual Basic.
Memiliki ukuran tubuh sebesar 143.360 bytes tanpa di-compress. Dan ia
dapat menyamar sebagai folder, file MP3 WinAmp atau yang lainnya dengan
cara mengubah secara langsung resource icon yang ada pada tubuhnya. Ini
akan lebih memyukarkan user awam dalam mengenalinya. Pada komputer
terinfeksi, saat menjalankan Internet Explorer, caption-nya akan berubah
menjadi “..:: x-fly ::..”, dan saat memulai Windows pun akan muncul
pesan dari si pembuat virus pada default browser.
Atau setiap waktu menunjukan pukul 12:30, 16:00, atau 20:00, virus ini
pun akan menampilkan layar hitam yang juga berisi pesan dari si pembuat
virus.
4. Explorea
Virus yang di-compile menggunakan Visual Basic ini hadir dengan
ukuran sekitar 167.936 bytes, tanpa di-compress. Menggunakan icon mirip
folder standard Windows
untuk mengelabui korbannya. Virus ini akan menyerang Registry Windows
Anda dengan mengubah default open dari beberapa extension seperti .LNK,
.PIF, .BAT, dan .COM. Pada komputer terinfeksi, disaat-saat tertentu
terkadang muncul pesan error, contohnya pada saat membuka System
Properties.
5. Gen.FFE
Gen.FFE atau pembuatnya menamakan Fast Firus Engine merupakan salah satu program Virus Generator
buatan lokal. Dengan hanya menggunakan program ini, tidak dibutuhkan
waktu lama untuk dapat menciptakan virus/varian baru. Virus hasil
keluaran program ini menggunakan icon mirip gambar folder standard
bawaan Windows. Ia pun akan memblok akses ke Task Manager, Command
Prompt, serta menghilangkan beberapa menu di Start Menu. Ia juga akan
membaca caption dari program yang aktif, apabila terdapat string yang
berhubungan dengan antivirus maka program tersebut akan segera ditutup
olehnya.
6. Hampa
Virus yang juga dibuat menggunakan Visual Basic dan ber-icon-kan
folder ini memiliki ukuran tubuh sekitar 110.592 bytes, tanpa
di-compress. Banyak sekali perubahan yang ia buat pada Windows, seperti
Registry, File System,
dan lain sebagainya, yang bahkan dapat menyebabkan Windows tidak dapat
digunakan sebagaimana mestinya. Pada komputer yang terinfeksi oleh virus
ini, saat memulai Windows akan muncul pesan dari si pembuat virus.
7. Raider.vbs
Virus jenis VBScript ini berukuran sekitar 10.000 bytes, jika file
virus dibuka dengan Notepad misalnya, maka tidak banyak string yang
boleh dibaca karena dalam keadaan ter-enkripsi. Pada Registry, ia pun
memberikan pengenal dengan membuat key baru di HKLM\Software dengan nama
sama seperti nama pada computer name, dengan isinya berupa string value
seperti nama virus tersebut, Raider, serta tanggal komputer tersebut
kali pertama terinfeksi.
8. ForrisWaitme
Virus yang dibuat dengan Visual Basic ini menggunakan icon mirip
folder standard Windows untuk melakukan penyamarannya. Beberapa ulahnya
adalah menukar fungsi tombol mouse kiri dengan kanan, menghilangkan menu
Folder Options, membuat file pesan “baca saya.txt” pada drive
terinfeksi, dan masih ada yang lainnya.
9. Pray
Virus lokal ini dibuat menggunakan Visual Basic. Kami mendapati 2
varian dari virus ini, untuk varian Pray.A tidak memiliki icon,
sementara untuk varian Pray.B menggunakan icon mirip Windows Explorer.
Jika komputer terinfeksi oleh virus ini, saat penunjuk waktu di komputer
tersebut menunjukkan pukul 05:15, 13:00, 16:00, 18:30, dan atau 19:45,
virus ini akan menampilkan pesan yang mengingatkan user untuk melakukan
shalat.
10. Rian.vbs
Virus VBScript ini memiliki ukuran 3788 bytes. Saat menginfeksi, ia
akan menciptakan file baru autorun.inf dan RiaN.dll.vbs pada setiap root
drive yang terpasang di komputer korban, termasuk Flash Disk.Top 10 Tangga Lagu Indonesia
Top 10 Tangga Lagu Indonesia Terbaru dan Terpopuler Maret 2014
| Posisi Saat ini | Artis/Band & Judul Lagu | Posisi dari Minggu Lalu |
|---|---|---|
| 1 | Fatin Shidqia Lubis - Dia dia dia | 3 |
| 2 | The Rain FT Endang Soekamti - Terlatih Patah Hati | 4 |
| 3 | Oplosan - Wiwik Sagita | 1 |
| 4 | Repvblik - Selimut Tetangga | 6 |
| 5 | Bondan Prakoso - Generasiku | 10 |
| 6 | Seventeen – Saat Kau Temukan Aku | 5 |
| 7 | Maudy Ayunda feat David Choi - By My Side | 7 |
| 8 | Nidji - Sumpah Dan Cinta Matiku | 2 |
| 9 | Maia Estianty - Karena Dia | 7 |
| 10 | Astrid - Terpukau | 8 |
18.55
firdausenjoy

